Senin, 17 Juni 2013
Sejarah Sawoo
Mengenai Sejarah Sawoo ini
erat hubungannya dengan Pangeran Kalipo Kusumo yang menurut kepercayaan
masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya dimakamkan di Gunung Bayangkaki
yang letaknya tak jauh dari desa tersebut.
Siapakah sebenarnya Pangeran Kalipo Kusumo itu ?. Menurut cerita
masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya, Pangeran Kalipo Kusumo adalah putra Paku Buwono: I dari Kartosuro. Beliau tidak menginginkan
kebahagiaan duniawi, tetapi ingin mencari ketenteraman lahir dan batin, untuk itu beliau meninggalkan kerajaan, berjalan ke arah timur dan
akhirnya sampai di suatu bukit yang sekarang bernama Gunung –
Bayang kaki. Gunung tersebut terletak di wilayah Kecamatan Sawoo,
Kabupaten Ponorogo. Setelah berada di tempat tersebut, pada siang hari
beliau melakukan semedi di puncak gunung, jika malam hari telah tiba,
pindah di suatu Gua yang terletak di gunung itu juga,
Semenjak Pangeran Kalipo Kusumo bertapa di puncak Gunung
Bayang kaki, keadaan masyarakat di sekitarnya kelihatan tenteram dan
damai. Bahkan sawah ladangnya pun terhindar dari serangan hama, sehingga
hasilnya berlipat ganda. Pangeran Kalipo Kusumo bersifat pengasih dan
penyayang kepada sesama manusia, khususnya kepada orang-orang di
sekitar pertapaannya. Oleh sebab itu beliau sangat disegani dan
dihormati oleh penduduk di sekitar pertapaannya.
Setelah beberapa tahun Pangeran Kalipo Kusumo bertapa di Gunung
Bayang kaki, di kraton Kartosuro terjadi peperangan yang dikenal dengan
istilah Perang Cina perang candu yang terjadi di sekitar. tahun 17^2,
Pada saat perang meletus Kartosuro tidak diperintah oleh Paku Buwono I,
tetapi telah diganti oleh Paku Buwono II, yaitu adik Pangeran Kalipo
Kusumo. Pada peperangan itu Sunan Paku Buwono II terdesak dan akhirnya
meninggalkan kraton, Dalam perjalanannya beliau menuju ke arah timur,
bermaksud mencari kakaknya.
Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya Sunan Paku Buwono II
dapat bertemu dengan Pangeran Kalipo Kusumo. Di dalam perjumpaan itu
Paku Buwono II menceriterakan keadaan yang menimpa kraton Kartosuro.
Mendengar. cerita adiknya itu Pangeran Kalipo Kusumo sangat sedih.
Beliau segera mengheningkan cipta, memohon petunjuk kepada Yang Maha
Kuasa. Setelah selesai semedinya, Pangeran Kalipo Kusumo memberi
petunjuk kepada adiknya agar turun dari gunung tempat pertapaannya,
supaya berjalan menuju ke arah selatan, jika di dalam perjalanan itu
telah menemukan 2 (dua) batang pohon sawo (sawo kembar) atau (Jawa Sawo
sakembaran), Paku Buwono II disuruh berhenti dan bertapa di bawah
pohon tersebut.
Setelah beberapa saat lamanya bertapa (menurut keterangan selama 40
hari), Paku Buwono II naik ke Gunung Bayang kaki bermaksud minta diri
kepada kakaknya untuk pulang ke Kartosuro. Setelah mendapat
petunjuk-petunjuk dari kakaknya Sunan Paku Buwono II segera
meninggalkan Gunung Bayang kaki.
Dalam perialanannya kembali ke Kartosuro, Sunan Paku Buwono II
singgah di desa Tegalsari di rumah Kyai Ageng Kasan Basari I. Di tempat
ini beliau dijamu oleh Kyai Ageng. Sunan Paku Buwono II sangat berkenan
di hati atas segala kebaikan Kyai Ageng Kasan Basari. Oleh sebab itu,
maka desa Tegalsari tempat tinggal Kyai Ageng Kasan Basari I dijadikan
desa perdikan yang bebas dari pajak.
Kemudian Sunan Paku Buwono; II melanjutkan perjalanannya untuk pulang
ke kraton Kartosuro. Setelah sampai di sebuah desa, beliau merasa
haus. Pada saat itu beliau bertemu dengan seorang nenek, lalu
berkenalan dan bercerita, sehingga dalam waktu yang singkat sudah
kelihatan sangat akrab. Oleh karena itu si nenek tidak segan-segan untuk
memohon Sunan Paku Buwono II singgah di tempat tinggalnya. Sesampainya
di rumah, si nenek segera memasak bubur (jenang Jawa). Setelah bubur itu
masak segera disuguhkannya. Melihat bubur yang masih mengepul itu Sunan
segera ingin menyantapnya, tetapi si nenek segera mencegahnya. Kemudian
si nenek memberitahukan jika makan bubur
sebaiknya dari pinggir, jangan dari tengah. Karena kalau dari pinggir
pasti tidak terasa panas dan segera habis. Anjuran si nenek ini
ditaatinya oleh Sunan Paku Buwono II dan ternyata memang benar. Pada
saat makan itu Sunan Paku Buwono II seperti mendapat firasat, bahwa cara
makan bubur yang dimulai dari pinggir. itu dapat dipakai sebagai taktik
untuk mengadakan perlawanan terhadap musuh yang telah menguasai Kraton
Kartosuro. Maka dari itu beliau segera mencoba taktik yang baru
ditemukannya, yakni menyerang pertahanan musuh dari tepi kemudian ke
tengah dan akhirnya ke pusat pertahanan. Dengan taktik tersebut ternyata
membawa hasil yang gemilang, pertahanan musuh dapat dihancurkan,
sehingga Sunan Paku Buwono II dapat menduduki tahta kraton Kartosuro
lagi. Untuk mengenang jasa nenek yang telah memberikan jalan terang bagi
Sunan Paku Buwono II, maka desa tempat tinggal si nenek tersebut
dijadikan perdikan yang kemudian dinamakan desa Menang.
Dengan adanya peristiwa kemenangan Sunan Paku Buwono II, di dalam
melawan musuh yang menguasai kerajaan Kartosuro, maka Sunan Paku Buwono
II lalu diberi julukan Pangeran Kumbul. Desa tempat Sunan Paku Buwono
bertapa hingga sekarang dinamakan desa Sawoo dan tempat untuk bertapa
dinamakan patilasan Sunan Kumbul. Patilasan Sunan Kumbul hingga
sekarang dikeramatkan oleh masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya.
Tiap-tiap hari tertentu, terutama malam Jum’at banyak orang yang
berjiarah di tempat itu. Para pejiarah itu bukan hanya orang dari desa
Sawoo saja, tetapi juga dari daerah lain. Para pendatang itu pada
umumnya mem puinyai rnaksud tertentu, misalnya ingin agar usahanya
maju, ingin agar naik kelas, agar sembuh dari penyakitnya, agar mendapat
kedudukan di dalam tempat kerjanya dan lain sebagainya.
Pada saat Sunan Paku Buwono II mengadakan perlawanan terhadap musuh
yang menduduki tahtanya, Pangeran Kalipo Kusumo tidak dapat ikut
berjuang, tetapi berdoa di tempat pertapaannya. Hal ini disebabkan
karena Pangeran Kalipo Kusumo telah bersumpah tidak akan meninggalkan
tempat pertapaannya hingga akhir hayatnya. Setelah Pangeran Kalipo
Kusumo tua dan merasa ajalnya sudah hampir tiba, tanpa diketahui
siapapun juga, beliau membuat liang kubur yang kelak akan dipakainya
sendiri. Setelah liang kubur itu jadi, maka beliau berpesan kepada para
pengikutnya, agar kelak kalau beliau meninggal supaya dimakamkan di
liang kubur yang telah dibuatnya sendiri. Liang kubur tersebut dibuat di
puncak gunung Bayang kaki (tempat pertapaannya). Oleh sebab itu setelah
Pangeran Kalipo Kusumoi wafat, oleh para pengikutnya dimakamkan di
puncak gunung tempat pertapaannya.
Pada saat beliau meninggal, yang mengusung jenasahnya adalah arang
laki-laki yang telah lanjut usia (Jawa: kaki-kaki) sehingga cara
mengusung jenasah tersebut diangkat bersama dengan sangat hati-hati
(Jawa: dibayang-bayang). Oleh sebab itu Gunung tempat Pangeran Kalipo
Kusumo bertapa dan dimakamkan ini kemudian dinamakan Bayang kaki.(Balai
Penelitian Sejarah dan Budaya Yogyakarta, 1981-1982).
Pada periode penjajahan Belanda, daerah Sawoo dan sekitar nya
merupakan daerah yang aman. Saat itu Kepala desa yang memerintah di desa
Sawoo adalah Bapak Ibrahim, setelah beliau wafat, diganti Bapak
Sardjon© dan pada akhir penjajahan Belanda hingga awal Kemerdekaan,
Kepala desa Sawoo dipegang oleh Ba pak Supono, Pada saat itu masyarakat
Sawoo keadaannya sangat menyedihkan.
Pada periode penjajahan Jepang, desa Sawoo juga merupakan desa
yang aman. Pada saat itu Kepala desa dipegang oleh Bapak Supono.
Menurut informasi dari Bapak Supono pen duduk desa Sawoo, pada saat
itu sangat menyedihkan. Saat itu penduduk dilarang masak nasi (beras),
mereka dianjurkan untuk makan nasi tiwul. Semua hasil padi, harus
diserahkan kepada Pemerintah Jepang, dengan alasan untuk memberimakan
tentara kita. Disanping kekurangan makan, penduduk Sawoo dan sekitarnya
juga kekurangan pakaian. Pada saat itu jarang kita jumpai penduduk yang
memakai kain, mereka menutup anggata badannya dengan goni, bahkan di
daerah pelosok ada yang tidak berpakaian sama sekali.
Walaupun daerah Sawoo merupakan daerah yang aman, namun tak luput
dari semua peraturan-peraturan pemerintah Jepang yang diterapkan di
seluruh Indonesia, Pada saat itu Jepang memerlukan tenaga kasar yang
dikenal dengan istilah Romusya, Pada mulanya perlakuan Jepang terhadap
Romusya cukup baik, tetapi lama kelamaan para romusya diperlakukan
sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Para romusya banyak yang
tidak kembali (mati), jika ada yang pulang tinggai kulit pembalut tulang
saja,
Menurut informasi dari bapak Supono yang menjabat Kepala Desa pada
saat itu penduduknya juga banyak yang menjadi korban romusya, Mereka ada
yang dapat melarikan diri dalam perjalanan sehingga pulang dengan
selamat, Bagi mereka yang tidak dapat meloloskan diri, sebagian besar
banyak yang tidak pulang lagi. Mereka yang tidak pulang itu kemungkinan
besar meninggal dalam melaksanakan tugas,
Pada periode kemerdekaan, khususnya pada waktu gerilya Jendral
Sudirman daerah Sawoo termasuk didalam route perjalanannya, menurut
inforraasi dari bapak Supono (bekas lurah desa Sawoo). pada saat para
gerilya berada di desa Ngindeng dan Tumpak Pelem bapak Sudirman sempat
beristirahat di desa Sawoo selama sehari. Pada saat itu penduduk desa
Sawoo ikut aktif di dapur umum, menyediakan makanan pasukan anak buah
Jendral Sudirman,
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tryata desaku desa bersejarah..walupun aku pndatang,aku bangga jdi warga bendo ngindeng sawoo...trimakasih bos,menambah wawasam
BalasHapuskata sawoo itu di ambil dari mana ya ? saya kita kota sawoo itu karena banyak tanaman sawoo
BalasHapusTerimakasih pencerahanya.....amat sangat bermanfaat sekali......
BalasHapusSebagai warga Sawoo saya bangga menjadi bagian desa sawoo